Senin, 20 Oktober 2008

TRADISI LEBARAN DAN BUDAYA KONSUMTIF

PENDAHULUAN
Tulisan ini mencoba mengangkat kembali “fenomena popular” di wilayah budaya konsumtif dan tradisi lebaran. Sudah banyak penulis sebelum-sebelumnya yang telah “membedah” fenomena ini berdasarkan “pisau bedah” sosio-kultural. Akan tetapi, penulis akan membedah fenomena ini menggunakan “pisau bedah” psikoanalisis. Didalamnya, kita akan menemui istilah-istilah tekhnis yang terdapat di psikoanalisis seperti : Id, Ego, dan Super-Ego. Berikut ini penulis memberikan penjelasan mengenai istilah-istilah tersebut.
Id (hasrat) mengacu pada dorongan didalam diri individu berdasarkan pleasure principle (prinsip kesenangan), Ego merupakan “jembatan” antara Id dengan Super-Ego. Dari “jembatan” inilah seseorang dapat membentuk ke”diri”annya. Sementara, Super-Ego merupakan dorongan pada diri individu yang berlawanan dengan Id dan bekerja berdasarkan prinsip moralitas dan idealitas dalam suatu masyarakat (seperti hukum dan value yang berlaku). Setelah mengetahui (secara singkat) prinsip-prinsip diatas, penulis mencoba mengajak pembaca untuk melihat kembali “fenomena popular” ini. Selamat membaca.

FENOMENA DAN ANALISIS

Dominasi (sebuah awal)

Beberapa waktu yang lalu, umat islam menunaikan ibadah puasa. Seluruh umat menahan rasa lapar dan haus sampai dengan waktu yang telah ditentukan. Akan tetapi, jika ingin ditarik lebih dalam lagi, ternyata tidak hanya dua hal itu saja yang menjadi bidikan utama dalam pelaksanaan ibadah ini. Mereka diajarkan untuk menahan dan mengendalikan hasrat yang terdapat dalam diri. Tujuannya agar umat islam menjadi manusia yang mampu mengendalikan dirinya dan bukan dikendalikan oleh hasrat-hasrat dalam dirinya meskipun kita semua tahu bahwa didalam diri tiap manusia terdapat hasrat. Hasrat-hasrat ini terkadang bekerja dalam ranah pencarian kesenangan.
Setelah berbuka pada akhir ramadhan, biasanya sebagian umat muslim menyambut datangnya 1 Syawal dengan melakukan pawai keliling kota dengan melantunkan pujian-pujian kepada Allah SWT dan berzakat ditempat yang telah ditentukan dan menjadi pilihan para umat. Tradisi ini sebagai sebuah simbol bahwa mereka mampu melewati segala macam cobaan selama bulan ramadhan. Akan tetapi, penulis cermati, kegiatan yang dominan pada saat akan tibanya 1 Syawal, biasanya rumah-rumah ibadah perlahan-lahan menjadi sepi, jalanan menjadi ramai dan pusat-pusat perbelanjaan mendadak dipadati oleh tubuh-tubuh manusia. Suatu keadaan yang amat kontras pada saat awal ramadhan tiba.
Pada saat bulan ramadhan tiba, penulis banyak sekali melihat tempat-tempat ibadah umat islam dipenuhi oleh orang-orang yang melaksanakan kegiatan ibadah yang lambat laun jumlahnya dapat diamati semakin menipis ketika menjelang akhir bulan ramadhan. Keadaan ini telah menjadi suatu tradisi tersendiri. Hal ini diperkuat ketika hampir tiap tahun penulis mendengar ucapan yang mengatakan “ah sudah biasa pada akhir-akhir bulan ramadhan memang masjid menjadi sepi..” atau “namanya juga akhir ramadhan, ya wajarlah kalo masjid menjadi sepi daripada awal bulan ramadhan..” atau “orang-orang sudah pada banyak ke Mall, kan dah mau lebaran..”.
Keadaan demikian menjadi sangat kontradiktif dimata penulis. Karena, semangat yang diusung pada saat ramadhan tiba adalah pengendalian hasrat-hasrat kesenangan dalam diri manusia agar menjadi manusia yang utuh. Selain itu, bulan ramadhan juga mengajarkan kepada umat islam agar saling berbagi karena apa yang dinikmati oleh kita selama ini belum tentu dapat dinikmati oleh orang lain yang notabene adalah orang-orang yang kurang beruntung. Akan tetapi, apa yang dilakukan oleh sebagian umat islam adalah peliaran hasrat kesenangan pada akhir bulan ramadhan. Mereka lebih memilih mengerjakan kesibukan berbelanja daripada menempa diri dalam selimut spiritualitas ramadhan.

Penulis menduga, bahwa ada kekeliruan dalam pemaknaan pada saat ramadhan tiba. Pada saat bulan ramadhan, seharusnya yang terjadi adalah pengendalian id (hasrat) agar menjadi seimbang dengan super-ego yang menjadikan ego seseorang menjadi lebih baik dan bukan sebaliknya, yaitu penekanan id oleh super-ego yang malah menyebabkan manusia tersebut menjadi manusia yang kaku penuh dengan pelbagai macam peraturan yang mengekang. Hal ini dapat berdampak pada bentuk-bentuk peliaran hasrat pada saat menjelang ramadhan usai, seperti : membludaknya tempat-tempat perbelanjaan, perayaan hari raya dengan tindakan-tindakan agresif dan anarki (menyalakan petasan di pinggir jalan, berkendara roda dua tidak memakai helm secara massal, dsb). Hal ini dapat dipahami ketika sebuah ambang batas manusia dalam penekanan id mencapai titik puncak dimana dengan segera membutuhkan sebuah media untuk pelepasan.
Jargon-jargon popular seperti : “kembali fitrah”, “kembali suci”, dan sebagainya nampaknya turut mempunyai peran sentral dalam tataran ilusi kognitif manusia. Hal ini turut serta membentuk suatu konsep ideal mengenai makna dalam menjalankan ibadah puasa. Konsep-konsep ideal ini memberikan sumbangsih yang menurut penulis cukup signifikan memberikan bentuk perepressan id dengan mengasumsikan bahwa dengan menekan id maka turut memberikan pahala yang berlimpah dan semua “noda” akan di “putihkan” pada waktunya. Padahal, didalam proses penekanan id dapat memberikan suatu dampak yang negatif terhadap diri maupun orang lain dengan memunculkan thanatos (insting destruktif) pada akhirnya. Dari sini, apakah tidak sebaiknya kita berpikir sejenak dan merefleksikan kembali mengenai “kembali fitrah” atau “kembali suci” yang selama ini didengungkan?

Sebuah Program

Bentuk-bentuk euforia dalam pelepasan id yang tertekan, tampaknya dapat dilihat secara sempurna oleh kaum kapitalis. Mereka dengan sangat baik dan penuh perhitungan yang sangat matang mengarahkan ledakan-ledakan hasrat dalam diri individu sebagai sebuah peluang yang sangat menggiurkan dan menguntungkan. Contoh paling konkret adalah pemberian potongan harga (discount) secara besar-besaran secara serentak di tempat-tempat perbelanjaan. Rasanya, tradisi pemberian potongan harga secara “menggila” ini tidak mungkin mendapatkan sebuah penguat tanpa adanya tradisi THR (Tunjangan Hari Raya). Dua tradisi yang menurut penulis merupakan kunci dalam permainan hasrat kaum kapitalis.
Pada tradisi pemberian THR, individu diberi penguat untuk memunculkan “hasrat untuk berkuasa” melalui pemberian jumlah nominal mata uang yang diterima individu. Bukanlah barang khusus bahwa uang merupakan alat tukar yang telah menjadi kekuatan sentral saat ini. Seorang manusia dapat berkuasa bisa karena jumlah uang yang dimiliki, seseorang dikatakan “kaya” juga karena uang yang dimiliki, seseorang dikatakan sebagai seorang koruptor pun karena uang yang dicuri, dan sebagainya. Uang benar-benar telah mengontrol kehidupan, dan simbol kedigdayaan atas manusia lainnya oleh karena itu, semakin besar jumlah nominal yang diterima akan semakin memperbesar “hasrat untuk berkuasa” dalam diri seseorang.
Kaum kapitalis dapat melihat adanya peluang yang benar-benar menguntungkan bagi dirinya. Mereka memprogram sebuah pengkondisian yang benar-benar terencana secara cermat dengan memanfaatkan momen tersebut. Mereka memberikan potongan harga secara serentak disetiap pusat-pusat perbelanjaan. Dengan begitu, dapat memberikan dampak berupa meledaknya “hasrat untuk berkuasa” manusia. Mereka dituntut untuk menaklukkan dan terus menaklukkan tiap tempat perbelanjaan yang ada dengan menawarkan simbol-simbol prestise dalam lingkungan sosial yang dapat berupa merek pakaian, sepatu, handphone, ataupun barang-barang lainnya yang dapat memberi “kebanggaan” tersendiri bagi penggunanya. Dengan adanya suatu tuntutan dalam sebuah momen spesial ini, maka dapat dipastikan bahwa manusia (umat islam pada khususnya) akan menjadi seorang (umat) konsumtif.
Rasa kebanggaan akan produk-produk tersebut tidak lepas dari peran super-ego didalamnya. Dapat dipahami bahwa super-ego merupakan bentukan dari luar diri individu (faktor eksternal) yang dapat berupa nilai, aturan, dan sebagainya. Fenomena diatas merupakan sebuah kebiasaan bentukan dan telah diwariskan secara turun temurun tanpa pernah ada semacam refleksi kritis dari masyarakat. Impotensi daya kritis ini diakibatkan karena pada saat momen tersebut muncul, semua orang melakukan hal yang sama, sehingga tampak telah menjadi sebuah kesepakatan bersama, dan kesepakatan-kesepakatan ini nampaknya melemahkan peran super-ego. Hilangnya daya super-ego ini adalah akibat dari “konsensus” yang dibentuk, sehingga super-ego melihatnya sebagai sebuah tindakan yang tidak merugikan atau bahkan tidak melanggar aturan (nilai) yang berlaku.
Lantas, kemanakah peran ego? Dalam hal ini, ego telah terbius dengan kekuatan super-ego sehingga super-ego merampas seluruh wilayah “kekuasaan” dari ego. Ke-“diri”-an seorang individu terenggut oleh sosok “diri eksternal” sehingga ego menjadi rapuh dan berganti dengan kebutuhan akan identitas diri. Kebutuhan ini hanya super-ego lah yang dapat memuaskannya karena super-ego adalah diri eksternal tersebut, dimana terdapat sebuah prestise, tradisi, dan budaya yang telah disinggung diatas. Dari sini, super-ego dengan sangat gegabah menyerap seluruh “kemassalan” secara buta sehingga menjadikan ego menjadi sebuah ego ilusif
[1].
Hal ini menyebabkan ke”diri”an seseorang menjadi buram dan melebur. Tidak ada beda, tidak ada keunikan yang tersedia dalam diri. Mereka telah serupa. Maka kebutuhan-kebutuhan ini akhirnya disulap menjadi sebuah komoditas dalam kompetisi hasrat yang tidak pernah berhenti. Tiap produk diperbaharui dan dibumbui oleh value-value “baru” sehingga produk-produk mereka tidak pernah tuntas diproduksi untuk kebutuhan massal dan akan terus menggelinding menjadi “bola salju” yang tak berultima.

[1] Agustinus Hartono, Skizoanalisis Deleuze+Guattari, hlm. 18.

Sabtu, 24 Mei 2008

MATINYA KEBEBASAN

Banyak manusia mengatakan tentang kebebasan tapi mereka telah membentuk sebuah ketidakbebasan bagi orang lain. Ya, mungkin bahasan ini sudah tergolong basi atau hampir semua orang mengatakan “iya” terhadapnya. Sering saya melihat dengan mata kepala saya sendiri entah itu datangnya dari teman atau kerabat-kerabat saya yang lain mereka berbicara mengenai kebebasan. “sebagai manusia, kita memiliki kebebasan”, “kebebasan itu ada pada kita”, dan sebagainya mengenai kebebasan. Memang, menurut para filsuf kebebasan itu ada ketika kita menentukan pilihan dan menjalankannya beserta konsekuensi-konsekuensi yang menyertai, kebebasan kita jangan sampai berbenturan dengan kebebasan orang lain bahkan menurut Sartre, “kebebasan itu menyakitkan”. Mungkin dapat dipahami ketika kita menjadi manusia yang bebas, value-value dan sejenisnya akan menekan kita sehingga akan berpikir dua kali untuk menjadi manusia yang bebas. Jujur, saya salut dengan orang yang sangat lihai berbicara mengenai kebebasan karena mereka begitu indah (dan mungkin sangat indah dengan segala ke-hiperbola an nya) dalam berbicara mengenai kebebasan.

Kebebasan itu bukan sesuatu hal yang konkret yang dapat di genggam. Mereka hanya lah sebuah ide yang dapat di rasakan dan di jalankan oleh seorang manusia. Itulah pendapat saya. Akan tetapi ketika saya melihat sebuah realita akan keindahan sebuah kebebasan, saya justru menjadi begitu tergelitik untuk mempertanyakan kebebasan itu sendiri. Itu semua karena orang-orang yang telah mempuitiskan kebebasan rasanya telah menodai kebebasan bagi orang lain. Seolah kebebasan dalam dirinya adalah suatu hal yang absolut dan semua orang harus menjadi dirinya agar menjadi manusia bebas. Mereka rela memasuki kelompok-kelompok maupun komunitas yang berfantasi akan kebebasan dan menginternalisasi nilai-nilai kelompok itu dan meng-“kampanyekan” kebebasan yang mereka rasakan sebagai suatu hal yang benar. Ya, mereka memang telah bebas dalam menentukan nilai-nilai yang diserap. Akan tetapi mereka tidak memberikan ruang bagi manusia lain dalam hal ini. Ketika seorang manusia berada diluar kelompok mereka, mereka berbicara dengan symbol-simbol yang hanya mereka sendiri yang tau untuk menghujat manusia tersebut. Mereka mentertawakan keberadaan manusia lain diluar kelompok mereka. Mereka coba menggambarkan diri bahwa mereka adalah pembawa “wahyu” kebebasan umat manusia dan rela berjuang demi kebebasan manusia. Kondisi ini begitu ironis karena mereka adalah manusia-manusia yang sadar akan kebebasan tetapi buta akan kebebasan. Mengap asaya berkata demikian? Karena mereka tidak pernah member ruang bagi kebebasan orang lain. Ketika seseorang tidak ingin menceritakan keadaan dirinya, mereka selalu memaksa dengan segala cara agar mereka menangkap symbol-simbol verbal dan non verbal dari orang lain sementara ketika orang lain berlaku sama, mereka malah tidak dapat menerimanya. Ketika seseorang mencoba menjadi diri mereka sendiri, mereka justru mencoba untuk menjadikan seseorang yang seragam dengan mereka. Dengan segala argumentasi, mereka justru seolah menjadi Tuhan atas orang lain. Dan memang sudah menjadi kecenderungan menurut Sartre bahwa manusia cenderung menjadi Allah. Mereka cenderung bernafsu untuk menguasai orang lain dan memainkan orang lain sebagai pion dalam papan catur demi kebebasan mereka. “..they don’t speak for us..” (no surprises-Radiohead) mungkin dapat mewakili keberadaan mereka yang terlalu sering memuntahkan kata-kata yang bermakna kebebasan dan merupakan sebuah awal dari matinya kebebasan. Dan hanya sebuah simbol-simbol bermakna persuasif saja agar tiap manusia mengikuti kebebasan mereka.

Senin, 07 April 2008

Cinta adalah Imaji

Setiap dari anda selalu menyatakan bahwa pernah merasakan indahnya cinta entah itu timbulnya dari kesadaran cinta yang anda dapatkan dari pengalaman hidup maupun dari “keindahan” lirik lagu yang berhasil mengkonstruksi keberadaan cinta dalam diri kita. Semenjak kita terlahir di dunia, kita telah terpisah dengan kehangatan rahim ibu yang melindungi kita. Keterpisahan dalam kehangatan ini tidak lah kita kehendaki. Kita hanyalah sebuah makhluk pasif yang berpindah tempat menuju dunia. Secara refleks kita menangis menjadi-jadi di iringi senyum bahagia sepasang manusia. Tempat ini tidak kita inginkan. Kehangatan dan kenyamanan tidak kita temui didalam nya. Tempat ini begitu asing dan menyesakkan. Perlahan-lahan kita mulai belajar untuk beradaptasi dengan keasingan yang kita rasakan melalui pelukan dan air susu ibu. Perasaan aman dan nyaman kita dapatkan kembali setelah terenggut oleh “pemaksaan” otot-otot perut yang berhasil “menendang” kita sebelumnya. Kita telah mengalami kebersatuan dengan ibu kita. Untuk pertama kalinya keberadaan sebuah cinta kita akui. Untuk pertama kalinya juga kita jujur dan mengekspresikan adanya cinta. Akan tetapi semakin dewasa, kita semakin fasih dalam hal merepres hal ini. Kita semua telah belajar untuk menekan persaan cinta kita hingga saat ini yang menjadikan cinta adalah suatu hal yang memalukan dan patut di tertawakan.

Kecenderungan dalam merepres cinta ini dapat termanifestasikan dalam hal semakin menjamurnya perilaku menyimpang dalam hal seksualitas, dan penggunaan zat-zat yang dapat memberikan sebuah efek pemuasan yang bersifat semu. Penyimpangan perilaku seksualitas ini dapat kita lihat ketika semakin menjamurnya seks bebas yang berakibat pada pencederaan makna sex yang telah ter-sintesiskan dengan cinta. Secara teoritik, kuasa ayah pada saat kita kecil telah mempengaruhi perasaan cinta kita terhadap objek cinta kita untuk yang pertama kalinya dan suatu kuasa ibu yang menampak kan suatu pola ke-inferioritasan sehingga secara tidak sadar kita lebih memilih membuang tenaga untuk menekan segala macam afeksi mengenai cinta yang kita rasakan. Dalam hal ini mungkin kita dapat lihat suatu pola yang biasa disebut sebagai “quo” (status quo) dalam menyampaikan perasaan cinta kita kepada objek cinta kita. Suatu konsekuensi logis terjadi ketika kita melakukan pemadatan terhadap cinta dengan harus mengakui bahwa ke-patriarkian merupakan suatu hal yang logis dan wajib di jalankan. Kalau kita sadar, maka kita akan menyadari suatu keterpisahan kita dengan salah satu sisi dari diri kita yaitu afeksi kita. Kita lantas meng-kompensasikan nya dengan mendominasikan unsur kognisi sebagai “raja” atas diri kita dan tidak ada seorang “ratu” yang mendampingi nya. Akan tetapi lebih sialnya lagi, suatu bentuk represi ini tidak lantas dapat kita katrol menuju alam pra-sadar kita dimana suatu waktu dapat membantu kita agar menyadari keterpisahan diri kita. Oleh karena itu, untuk memuaskan suatu bentuk ketidak-berdayaan kita akan keterpisahan ini, sering dari kita berlari menuju suatu kondisi yang di sebut oleh Fromm dengan kondisi Orgiastik. Dimana kita “menjemput” suatu kondisi yang semu melalui alcoholism ataupun cara-cara lain yang dapat memberikan suatu efek semu dan memberikan suatu cara agar kita merasakan “kenikmatan” sesaat dari keterpisahan kita (fromm;erich, the Art of Loving). Akhirnya, kita mengakui adanya cinta dengan objek diluar diri kita dengan cara-cara yang semu, sebuah simulasi atas diri.

Contoh yang sangat menarik mengenai cinta ini adalah sepasang suami-istri yang sebelumnya terpisah selama 30 tahun. Pada waktu itu, si istri sedang berumur 1 tahun. Begitu mereka bertemu, perasaan akan keterpisahan mereka timbul. Si wanita tersebut lantas menikahi lelaki yang telah berpisah selama 30 tahun tersebut. Akan tetapi, wanita dan lelaki tersebut sadar bahwa mereka adalah ayah dan anak yang telah berpisah selama 30 tahun. Istri yang sesungguhnya dari lelaki itu telah meninggal, mereka ber-cerai pada waktu anaknya baru berusia 30 tahun. Mereka sekarang telah memiliki 2 orang anak, 1 anak nya meninggal dunia karena kelinan jantung bawaan, dan anak satu nya dalam keadaan sehat. (Jawa Pos, 08 April 2008). Jika kita melihat cerita diatas, kita akan menyalahkan mereka berdua. Akan tetapi jika kita telaah lebih dalam, apa yang mereka lakukan sebenarnya berasal dari keterpisahan yang selama ini mereka rasakan. Mereka bertemu sebagai seorang bapak-anak, akan tetapi secara sadar, mereka memisahkan hal itu. Mereka lebih memilih perasaan akan cinta mereka ber-dua sebagai sepasang kekasih.

Pada awal mula manusia di ciptakan sebagai sosok Adam, dia telah mengalami sebuah keterpisahan dengan manusia lainnya. Dia pun merasakan kesepian. Maka Yang Esa pun menciptakan Hawa sebagai pendampingnya. Menurut cerita yang saya dengar, Hawa diciptakan oleh Yang Esa dari tulang rusuk Adam. Adam merelakan dirinya berpisah dengan salah satu anggota tubuhnya demi terciptanya wanita pertama, Hawa. Mereka hidup bahagia di Surga hingga Hawa menyuruh Adam untuk mengambil buah yang telah di”kutuk” oleh Yang Esa. Adam dan Hawa di turunkan dari “istananya” menuju ke suatu tempat yag sangat asing bagi mereka, Bumi (Dunia). Mereka tidak di “buang” di tempat yang sama, akan tetapi di jauhkan dengan jarak ribuan mil. Hanya karena kesadaran akan keterpisahan mereka lah pada akhirnya mereka bertemu kembali dan menjadi satu, hingga memiliki empat orang anak (dua orang lelaki dan dua orang wanita) yang pada akhirnya mereka menikah.

Berkaca pada dua cerita diatas, sebenanya apa yang terjadi pada cerita pertama adalah hal yang wajar (mungkin menurut anda tidak pada saat ini). Sama ketika Adam dan Hawa menikahkan anak-anak mereka sendiri. Akan tetapi semakin berubahnya hari, minggu, bulan, dan tahun, manusia belajar untuk mengatasi dan memperbaiki hidup mereka. Oleh karena itu mereka membentuk sebuah totem yang notabene merupakan sebuah lambang yang mereka sembah sebagai sesuatu yang memiliki kekuatan. Mereka merindukan akan suatu kekuatan yang dapat melindungi mereka. Melalui totem inilah mereka akhirnya menciptakan suatu norma atau aturan-aturan bagi seluruh anggota totem yang bertujuan untuk mengatur seluruh tingkah laku anggotanya, termasuk masalah afeksi. Mereka melarang adanya pernikahan dengan sesama anggota totem. Oleh karena itulah ke-tabu (taboo) an kita kenal sampai sekarang dan sebuah system di dalam Psyche kita yang oleh Freud disebut dengan Super-ego. Bagi kita yang turut menyalahkan kisah di atas, sebenarnya system super-ego kita lah yang menyalahkan tindakan mereka. Yang harus kita sadari bersama adalah karena mereka manusia (sama dengan kita) yang mengalami keterpisahan.