<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2669877337856020081</id><updated>2012-02-16T11:13:24.964-08:00</updated><category term='renungan filosofis'/><title type='text'>proof your self</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://proofyourself.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2669877337856020081/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://proofyourself.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Bagus_Hartawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01735910815490951620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_sy9Yu5eauWg/SPxmUWYKEKI/AAAAAAAAAAM/rKcrOdCgZPs/S220/FOTO+NDHOX+(600+x+401).jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>4</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2669877337856020081.post-8120561449357405583</id><published>2008-10-20T04:11:00.000-07:00</published><updated>2008-10-20T04:17:25.820-07:00</updated><title type='text'>TRADISI LEBARAN DAN BUDAYA KONSUMTIF</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;strong&gt;PENDAHULUAN&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Tulisan ini mencoba mengangkat kembali “fenomena popular” di wilayah budaya konsumtif dan tradisi lebaran. Sudah banyak penulis sebelum-sebelumnya yang telah “membedah” fenomena ini berdasarkan “pisau bedah” sosio-kultural. Akan tetapi, penulis  akan membedah fenomena ini menggunakan “pisau bedah” psikoanalisis. Didalamnya, kita akan menemui istilah-istilah tekhnis yang terdapat di psikoanalisis seperti : Id, Ego, dan Super-Ego. Berikut ini  penulis memberikan penjelasan mengenai istilah-istilah tersebut.&lt;br /&gt;Id (hasrat) mengacu pada dorongan didalam diri individu berdasarkan pleasure principle (prinsip kesenangan), Ego merupakan “jembatan” antara Id dengan Super-Ego. Dari “jembatan” inilah seseorang dapat membentuk ke”diri”annya. Sementara, Super-Ego merupakan dorongan pada diri individu yang berlawanan dengan Id dan bekerja berdasarkan prinsip moralitas dan idealitas dalam suatu masyarakat (seperti hukum dan value yang berlaku). Setelah mengetahui (secara singkat) prinsip-prinsip diatas, penulis  mencoba mengajak pembaca untuk melihat kembali “fenomena popular” ini. Selamat membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;strong&gt;FENOMENA DAN ANALISIS&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dominasi (sebuah awal)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Beberapa waktu yang lalu, umat islam menunaikan ibadah puasa. Seluruh umat menahan rasa lapar dan haus sampai dengan waktu yang telah ditentukan.  Akan tetapi, jika ingin ditarik lebih dalam lagi, ternyata tidak hanya dua hal itu saja yang menjadi bidikan utama dalam pelaksanaan ibadah ini. Mereka diajarkan untuk menahan dan mengendalikan hasrat yang terdapat dalam diri. Tujuannya agar umat islam menjadi manusia yang mampu mengendalikan dirinya dan bukan dikendalikan oleh hasrat-hasrat dalam dirinya meskipun kita semua tahu bahwa didalam diri tiap manusia terdapat hasrat. Hasrat-hasrat ini terkadang bekerja dalam ranah  pencarian kesenangan.&lt;br /&gt;Setelah berbuka pada akhir ramadhan, biasanya sebagian umat muslim menyambut datangnya 1 Syawal dengan melakukan pawai keliling kota dengan melantunkan pujian-pujian kepada Allah SWT dan berzakat ditempat yang telah ditentukan dan menjadi pilihan para umat. Tradisi ini sebagai sebuah simbol bahwa mereka mampu melewati segala macam cobaan selama bulan ramadhan. Akan tetapi, penulis cermati, kegiatan yang dominan pada saat akan tibanya 1 Syawal, biasanya rumah-rumah ibadah perlahan-lahan menjadi sepi, jalanan menjadi ramai dan pusat-pusat perbelanjaan mendadak dipadati oleh tubuh-tubuh manusia. Suatu keadaan yang amat kontras pada saat awal ramadhan tiba.&lt;br /&gt;Pada saat bulan ramadhan tiba, penulis banyak sekali melihat tempat-tempat ibadah umat islam dipenuhi oleh orang-orang yang melaksanakan kegiatan ibadah yang lambat laun jumlahnya dapat diamati semakin menipis ketika menjelang akhir bulan ramadhan. Keadaan ini telah menjadi suatu tradisi tersendiri. Hal ini diperkuat ketika hampir tiap tahun penulis mendengar ucapan yang mengatakan “ah sudah biasa pada akhir-akhir bulan ramadhan memang masjid menjadi sepi..” atau “namanya juga akhir ramadhan, ya wajarlah kalo masjid menjadi sepi daripada awal bulan ramadhan..”  atau “orang-orang sudah pada banyak ke Mall, kan dah mau lebaran..”.&lt;br /&gt;Keadaan demikian menjadi sangat kontradiktif dimata penulis. Karena, semangat yang diusung pada saat ramadhan tiba adalah pengendalian hasrat-hasrat kesenangan dalam diri manusia agar menjadi manusia yang utuh. Selain itu, bulan ramadhan juga mengajarkan kepada umat islam agar saling berbagi karena apa yang dinikmati oleh kita selama ini belum tentu dapat dinikmati oleh orang lain yang notabene adalah orang-orang yang kurang beruntung. Akan tetapi, apa yang dilakukan oleh sebagian umat islam adalah peliaran hasrat kesenangan pada akhir bulan ramadhan. Mereka lebih memilih mengerjakan kesibukan berbelanja daripada menempa diri dalam selimut spiritualitas ramadhan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Penulis menduga, bahwa ada kekeliruan dalam pemaknaan pada saat ramadhan tiba. Pada saat bulan ramadhan, seharusnya yang terjadi adalah pengendalian id (hasrat) agar menjadi seimbang dengan super-ego yang menjadikan ego seseorang menjadi lebih baik dan bukan sebaliknya, yaitu penekanan id oleh super-ego yang malah menyebabkan manusia tersebut menjadi manusia yang kaku penuh dengan pelbagai macam peraturan yang mengekang. Hal ini dapat berdampak pada bentuk-bentuk peliaran hasrat pada saat menjelang ramadhan usai, seperti : membludaknya tempat-tempat perbelanjaan, perayaan hari raya dengan tindakan-tindakan agresif dan anarki (menyalakan petasan di pinggir jalan, berkendara roda dua tidak memakai helm secara massal, dsb). Hal ini dapat dipahami ketika sebuah ambang batas manusia dalam penekanan id mencapai titik puncak dimana dengan segera membutuhkan sebuah media untuk pelepasan.&lt;br /&gt;Jargon-jargon popular seperti : “kembali fitrah”, “kembali suci”, dan sebagainya nampaknya turut mempunyai peran sentral dalam tataran ilusi kognitif manusia. Hal ini turut serta membentuk suatu konsep ideal mengenai makna dalam menjalankan ibadah puasa. Konsep-konsep ideal ini memberikan sumbangsih yang menurut penulis cukup signifikan memberikan bentuk perepressan id dengan mengasumsikan bahwa dengan menekan id maka turut memberikan pahala yang berlimpah dan semua “noda” akan di “putihkan” pada waktunya. Padahal, didalam proses penekanan id dapat memberikan suatu dampak yang negatif terhadap diri maupun orang lain dengan memunculkan thanatos (insting destruktif) pada akhirnya. Dari sini, apakah tidak sebaiknya kita berpikir sejenak dan merefleksikan kembali mengenai “kembali fitrah” atau “kembali suci”  yang selama ini didengungkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sebuah Program&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;br /&gt;Bentuk-bentuk euforia dalam pelepasan id yang tertekan, tampaknya dapat dilihat secara sempurna oleh kaum kapitalis. Mereka dengan sangat baik dan penuh perhitungan yang sangat matang mengarahkan ledakan-ledakan hasrat dalam diri individu sebagai sebuah peluang yang sangat menggiurkan dan menguntungkan. Contoh paling konkret adalah pemberian potongan harga (discount) secara besar-besaran secara serentak di tempat-tempat perbelanjaan. Rasanya, tradisi pemberian potongan harga secara “menggila” ini tidak mungkin mendapatkan sebuah penguat tanpa adanya tradisi THR (Tunjangan Hari Raya). Dua tradisi yang menurut penulis merupakan kunci dalam permainan hasrat kaum kapitalis.&lt;br /&gt;Pada tradisi pemberian THR, individu diberi penguat untuk memunculkan “hasrat untuk berkuasa” melalui pemberian jumlah nominal mata uang yang diterima individu. Bukanlah barang khusus bahwa uang merupakan alat tukar yang telah menjadi kekuatan sentral saat ini. Seorang manusia dapat berkuasa bisa karena jumlah uang yang dimiliki, seseorang dikatakan “kaya” juga karena uang yang dimiliki, seseorang dikatakan sebagai seorang koruptor pun karena uang yang dicuri, dan sebagainya. Uang benar-benar telah mengontrol kehidupan, dan simbol kedigdayaan atas manusia lainnya oleh karena itu, semakin besar jumlah nominal yang diterima akan semakin memperbesar “hasrat untuk berkuasa” dalam diri seseorang.&lt;br /&gt;Kaum kapitalis dapat melihat adanya peluang yang benar-benar menguntungkan bagi dirinya. Mereka memprogram sebuah pengkondisian yang benar-benar terencana secara cermat dengan memanfaatkan momen tersebut. Mereka memberikan potongan harga secara serentak disetiap pusat-pusat perbelanjaan. Dengan begitu, dapat memberikan dampak berupa meledaknya “hasrat untuk berkuasa” manusia. Mereka dituntut untuk menaklukkan dan terus menaklukkan tiap tempat perbelanjaan yang ada dengan menawarkan simbol-simbol prestise dalam lingkungan sosial yang dapat berupa merek pakaian, sepatu, handphone, ataupun barang-barang lainnya yang dapat memberi “kebanggaan” tersendiri bagi penggunanya. Dengan adanya suatu tuntutan dalam sebuah momen spesial ini, maka dapat dipastikan bahwa manusia (umat islam pada khususnya) akan menjadi seorang (umat) konsumtif. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Rasa kebanggaan akan produk-produk tersebut tidak lepas dari peran super-ego didalamnya. Dapat dipahami bahwa super-ego merupakan bentukan dari luar diri individu (faktor eksternal) yang dapat berupa nilai, aturan, dan sebagainya. Fenomena diatas merupakan sebuah kebiasaan bentukan dan telah diwariskan secara turun temurun tanpa pernah ada semacam refleksi kritis dari masyarakat. Impotensi daya kritis ini diakibatkan karena pada saat momen tersebut muncul, semua orang melakukan hal yang sama, sehingga tampak telah menjadi sebuah kesepakatan bersama, dan kesepakatan-kesepakatan ini nampaknya melemahkan peran super-ego. Hilangnya daya super-ego ini adalah akibat dari “konsensus” yang dibentuk, sehingga super-ego melihatnya sebagai sebuah tindakan yang tidak merugikan atau bahkan tidak melanggar aturan (nilai) yang berlaku.&lt;br /&gt;Lantas, kemanakah peran ego? Dalam hal ini, ego telah terbius dengan kekuatan super-ego sehingga super-ego merampas seluruh wilayah “kekuasaan” dari ego.  Ke-“diri”-an seorang individu terenggut oleh sosok “diri eksternal” sehingga ego menjadi rapuh dan berganti dengan kebutuhan akan identitas diri. Kebutuhan ini hanya super-ego lah yang dapat memuaskannya karena super-ego adalah diri eksternal tersebut, dimana terdapat sebuah prestise, tradisi, dan budaya yang telah disinggung diatas. Dari sini, super-ego dengan sangat gegabah menyerap seluruh “kemassalan” secara buta sehingga menjadikan ego menjadi sebuah ego ilusif&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2669877337856020081#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;.&lt;br /&gt;Hal ini menyebabkan ke”diri”an seseorang menjadi buram dan melebur. Tidak ada beda, tidak ada keunikan yang tersedia dalam diri. Mereka telah serupa. Maka kebutuhan-kebutuhan ini akhirnya disulap menjadi sebuah komoditas dalam kompetisi hasrat yang tidak pernah berhenti. Tiap produk diperbaharui dan dibumbui oleh value-value “baru” sehingga produk-produk mereka tidak pernah tuntas diproduksi untuk kebutuhan massal dan akan terus menggelinding menjadi “bola salju” yang tak berultima.  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2669877337856020081#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;  &lt;em&gt;Agustinus Hartono, Skizoanalisis Deleuze+Guattari, hlm. 18.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2669877337856020081-8120561449357405583?l=proofyourself.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://proofyourself.blogspot.com/feeds/8120561449357405583/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2669877337856020081&amp;postID=8120561449357405583' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2669877337856020081/posts/default/8120561449357405583'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2669877337856020081/posts/default/8120561449357405583'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://proofyourself.blogspot.com/2008/10/tradisi-lebaran-dan-budaya-konsumtif.html' title='TRADISI LEBARAN DAN BUDAYA KONSUMTIF'/><author><name>Bagus_Hartawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01735910815490951620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_sy9Yu5eauWg/SPxmUWYKEKI/AAAAAAAAAAM/rKcrOdCgZPs/S220/FOTO+NDHOX+(600+x+401).jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2669877337856020081.post-3022081273127686154</id><published>2008-07-22T03:42:00.000-07:00</published><updated>2008-07-22T03:47:01.231-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan filosofis'/><title type='text'>PELAJARAN BERHARGA dari KEBUN BINATANG</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Siang itu, saya sedang berada dalam sekelompok manusia yang akan melakukan perjalanan ke kebun binatang Surabaya. Kami semua akan melakukan rapat besar kepanitiaan dengan memakai &lt;i style=""&gt;dress code&lt;/i&gt; berwarna merah. Sebelumnya, saya sempat mempertanyakan mengapa harus mempergunakan baju dengan warna merah? Apakah jika saya memakai baju berwarna selain merah akan berada diluar kelompok tersebut? Jawaban itu baru saya dapatkan ketika seseorang dari kelompok tersebut berkata “kalian jangan lemas begitu, masa’ udah pake baju merah gitu masih lemes aja..” ya, ternyata baju itu sebagai tanda bahwa merah menandakan semangat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Akan tetapi, sebuah tanda hanyalah tanda saja. Rasanya tidak sejalan dengan realita yang diharapkan dari warna baju itu, sebuah semangat. Pada saat akan menempuh perjalanan, saya melihat ada beberapa teman yang memakai baju diluar warna hitam dan tidak dengan warna dominan merah. Saya merasa menjadi seorang konformis pada saat itu. Aturan-aturan yang ada dalam kelompok saya taati begitu saja yang dalam hal ini menganai pemakaian warna pakaian. “Hmm.. ya mau bagaimana lagi, saya cuma ingin menghormati hal itu” bela saya akan kekonformitasan pada kelompok yang siang itu memang didominasi oleh baju berwarna merah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Saya tidak mengetahui dengan tepat pukul berapa pada waktu itu karena saya sedang tidak memakai penunjuk waktu. Akan tetapi, matahari belum menyengat kulit dan masih terasa bersahabat. Saya dan adik saya sempat tertinggal beberapa jam dari rombongan, akan tetapi, kami berdua datang ditempat hanya berselang beberapa menit saja. Relativitas waktu sedang bermain dikala kami sedang dalam perjalanan. Setelah berkumpul didepan pintu masuk kebun binatang, kami berkumpul sejenak untuk absen dengan dipanggil satu-persatu oleh salah seorang anggota panitia dari sie acara. Setelah nama-nama kami dipanggil, kami diperbolehkan untuk berjalan-jalan sampai dengan batas waktu yang ditentukan oleh panitia agar acara dapat terlaksana tepat waktu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Beberapa langkah kami ayunkan, sambil berbicara dengan adek saya, saya menunjuk pada seekor kera berbulu hitam yang sedang bergelayutan disebuah batang pohon yang tampak kokoh. “mana sih? Oh ya, aku lupa ga pake kacamata..hehehe…”kata adik saya. “yah..pake dulu lah kacamatanya baru dilihat..”sahut saya sambil menunjukkan tempat kera itu bergelayutan. “oh iya..” sahut adik singkat. Kami berjalan melewati arena bermain anak-anak dan berjalan menuju kandang-kandang burung yang berjejer dengan rapi. Kami melewati sekumpulan jenis burung yang berbeda-beda dan mungkin jarang ditemui. “huh, bau nya menyengat sekali disini..” salah seorang peserta berbicara sambil mengibas-kibaskan tangan kanan di depan hidungnya. “iya nih..eh kamu belum mandi ya? Hahaha…” lanjut yang lain, dan suasana pun menjadi sedikit gaduh karena keakraban mereka. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Kami pun melanjutkan perjalanan. Saya memisahkan diri sejenak dari kelompok untuk melihat kumpulan unggas disisi lain kebun binatang. Saat saya melihat burung merak, saya langsung tertuju kemata burung tersebut. Rasanya, makhluk tersebut tidak bahagia berada “dirumah kawatnya”. Burung itu berjalan gontai tanpa semangat, sementara disebelah kandangnya saya melihat ada seseorang berambut putih mengenakan celana pendek berwarna biru muda, berkaos hijau tua dan bersandal jepit sedang memberi makanan pada sekumpulan burung dengan jenis yang berbeda dari merak yang sedang saya tatap.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Orang tersebut membawa sepiring potongan (sepertinya) buah papaya yang dipotong kecil-kecil. Lantas saya melihat sekitar burung merak yang sedang berada didepan saya, ternyata dia belum mendapatkan makanan sama sekali. “ya mungkin karena itu dia lemas” piker saya. “kamu yang sabar aja ya..” ujar saya kepada merak tersebut. Merak itu jelas tidak akan mengerti apa yang saya ucapkan, akan tetapi saya yakin dia mampu menangkap rasa empati yang saya kirimkan kepada dia. Saya lantas meninggalkan tempat itu bergegas menyusul rombongan yang tadi sempat saya pisahkan. Dalam perjalanan, saya melewati tempat akuarium yang saya nilai kurang terawat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Dari luar tembok berkawat, saya mengintip ternyata terdapat sekumpulan penyu yang sedang bergerumbul disalah satu sisi kolam terbuka yang searah dengan saya. “hei penyu..lucu sekali mukamu..huhuhu…”ujar saya dengan nada gemas. Saya ingin memasuki area tersebut. Saya lantas mencari pintu masuk tempat akuarium tersebut. Akan tetapi saya mengurungkan niat saya karena harus mengeluarkan biaya lebih untuk memasukinya. “yah..padahal pengen ketemu ma penyu-penyu tadi..tapi yasudahlah..” pinta saya dalam hati. Saya lantas kembali mengayunkan kedua kaki saya untuk mencari rombongan saya yang terpisah tadi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Akhirnya kami bertemu disebuah wilayah yang dibangun kandang-kandang “kucing besar”. Kandang pertama saya lihat, sangat mengecewakan. Karena “kucing” tersebut hanya diam diatas seperti kelelahan. Begitu juga dengan kandang-kandang berikutnya. Disebelah kiri kumpulan kandang “kucing besar, terdapat sederet kandang yang tampak kacau balau tak terawat. Beberapa kandang dipasang papan bertuliskan “kandang sedang diperbaiki” akan tetapi saya tidak melihat adanya pekerja yang sedang memperbaiki beberapa kandang tersebut. Dari beberapa kandang tersebut, ada dua kandang yang satu berisi kanguru pohon dan yang satu berisi sepasang kalong (sejenis kelelawar) yang sedang berisitirahat dengan bergelantungan di bagian atas kandang dengan menutupi tubuh dan sebagian wajahnya dengan sayapnya yang khas seperti &lt;i style=""&gt;superhero&lt;/i&gt; A.S Batman.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;“hmm…kaya vampire ya..” kata saya. “bukan..justru vampire yang niru hewan ini…” jelas adik saya. “bener juga kamu..hehehe”jawab saya. “aku kalo dikebun binatang ga tega liat hewan-hewannya..kasihan mereka..lihat deh..kandangnya banyak yang kekecilan dan ga layak menurutku..”ujar adik saya. “yup..aku setuju ma kamu..”tambah saya. “mm…aku pengen ngeliat jerapah mas..ada ga ya? Ato gajah deh..ato..kuda nil?ada ga disini?” tanya adik saya. “mm…dulu sih ada, tapi ga tau lagi kalo dah direlokasi ato jangan-jangan dah mati…”jawab saya sambil kebingungan. Kami dan kelompok kami melanjutkan perjalanan kembali. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Saya dengan sengaja memisahkan diri kembali dengan rombongan sekedar untuk mencari dan melihat kandang gajah dan jerapah. Tidak jauh dari tempat kami terlibat perbincangan, kebetulan sekali saya melihat ada gajah sedang ditumpangi oleh pengunjung anak-anak bahkan mereka sampai rela mengantri. Secara spontan saya memeanggil adik saya “dek..deekkk…sstt..sstt…”berteriak. tapi adik saya tidak meresponnya. Saya lantas memanggil namanya baru dia merespon. “sini..sini..ada gajah disini..lihat deh..”ujar saya. Adik saya lantas berjalan menghampiri saya. Ditepi jalan tersebut terdengar suara gemericik air mengalir “wah…airnya mengalir…aku suka suara air mengalir mas..”ujar adik saya. “ya..aku kalo denger suara gemericik air rasanya pengen tidur..enak banget dengernya” ujar saya. “iya..”jawab adik saya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Jarak beberapa meter dari gajah tersebut, adik saya menghentikan langkahnya dan berkata “aku pengen ikut main ma anak-anak itu..keliatanya menyenangkan..”. “waah..dasar pecinta anak-anak…hehehe..aku juga suka sih..oya, kalo kamu pengen jadi guru kaya’ mereka(menunjuk ke arah beberapa pendamping anak-anak tersebut) kamu magang aja di TK Ceria..kan lumayan..”ujar saya. “waa..bisa-bisa aku yang jadi sasaran anak-anak itu mas…”jawabnya. “hahaha…iya juga sih, tapi kalo aku biasanya malah tak ajarin..psst…psst…cew itu cantik ya…hahaha…” ujar saya. “wah, tapi aku ga mau jadi setan mas…”jawabnya. Saya lantas hanya tersenyum. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Kami melanjutkan perjalanan. Jarak beberapa meter, kami sempat melihat papan yang bertuliskan “wisata air” disebelah kanan kami. Terdapat juga pohon rambat yang merambat di besi-besi yang membentuk seperti pintu dengan bentuk setengah lingkaran bagian atasnya. “wah..bagus ya mas..aku suka yang kaya gini..” ujar adik saya. “iya..lumayan buat ngadem bentar..hehehe”jawab saya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Beberapa langkah dari tempat itu, terdapat hewan berleher dan berkaki panjag dengan motif seperti prisma atau kotak berwarna coklat di tubuhnya sedang menikmati santap siang berupa rerumputan. “waaahhh…bagus jerapah nya…” ujar adik saya sambil menatap jerapah itu dengan mata berbinar.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;“iya dek…hehe..seneng sekali mukanya” ujar saya. Tampaknya sihir jerapah itu lebih kuat. Setelah beberapa menit mengamati jerapah itu, kami kembali menyusuri jalan. Kami melihat bermacam-macam hewan dengan kandang-kandang “spesial”. Mereka hidup digolongkan per-spesies. Kadang ada yang hanya berjumlah satu, dua, atau lebih dari dua per-kandangnya. Lebih lucu lagi ketika kami tiba dikandang yang bertuliskan “&lt;i style=""&gt;cheetah&lt;/i&gt;”. Saya mengamati isi kandang tersebut yang ada malah hewan “kucing besar” yang menurut saya bertubuh kurus, tubuhnya berwarna dan bermotif identik dengan harimau Sumatra. “lho, bukannya &lt;i style=""&gt;cheetah&lt;/i&gt; itu motif tubuhnya bentol-bentol ya?” tanya saya pada adik saya. “ya mungkin salah kandang kali mas..”jawabnya. “hah?!?! Salah kandang?? Wah-wah…” ujar saya sambil menggeleng-geleng kan kepala. “ayo dek jalan lagi..” lanjut saya. Kami pun melanjutkan menelusuri jalan tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Disebelah kiri saya terdapat hewan yang menurut saya mirip sekali dengan domba, tapi entah apa namanya. Dan disebelahnya terdapat kandang bison hewan khas amerika. “kasihan ya dek..harusnya badan binatang itu besar sekali” ujar saya. “iya mas..liat deh itu gundul hewannya..” ujar adik saya. “lha?gundul darimana??” tanya saya heran (karena menurut saya hewan itu masih berbulu). “lihat deh mas, bulunya kan ga segitu harusnya..”ucap adik. “masyaallah…lihat deh mas..kandangnya sempit sekali..kasihan..”lanjut adik saya. “iya ya dek..tapi masih cukup ma badannya kan?” lanjut saya. “iya, tapi apa ya bisa dikatakan layak dengan kondisi kaya gitu?”ujar adik saya. “hmm..iya juga sih..”jawab saya. “kasihan ya kamu..huhuhuhu..”ujar adik saya seraya berempati. “udah..jalan lagi yuk..”ujar saya. Kami lantas kembali menyusuri jalan tersebut dan tiba dikandang kuda nil. Pada kandang pertama, kami dibuat kecewa lantaran tidak ada satupun kuda nil yang terlihat. Dalam pikiran saya, mungkin penghuninya sedang berada didalam air.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;“mana kuda nilnya nih??” tanya adik saya. Karena saya telah berasumsi, saya menjawab “mungkin didalam air dek..tunggu aja mungkin muncul bentar lagi”ujar saya. Akan tetapi tidak kunjung muncul juga yang dinanti-nanti. Di kandang sebelah nya, kami melihat ada seseorang yang berkata “waah…ada kuda nil nya” lantas kami berdua bergegas ke tempat orang tersebut dan berhasil melihat kuda nil tersebut. Dan ternyata, dua batas tembok dari kandang kuda nil yang kami datangi, ternyata terdapat kuda nil-kuda nil muda dan kuda nil terbesar berada dikandang paling belakang. Sementara kuda nil yang berada di depan kami bisa dikatakan berukuran sedang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Kami pun berhenti dan duduk-duduk di seberang kandang kuda nil itu. Tepat dibelakang kami terdapat kandang kerbau (mungkin juga sapi Madura karena bentuk fisik dan tubuhnya mirip seperti yang digunakan pada saat karapan sapi -kesenian khas Madura-). Tiba-tiba kami bertemu dengan kelompok kami lagi. Kami pun beranjak dari tempat duduk sementara itu. “waaa…mas….huhuhuhuhu…aku dikedipin ma sapinya…”teriak adik dengan menutup matanya. “hah?sapinya ngedipin kamu?” tanya saya yang lantas melihat kearah kandang sapi tersebut. “iya mas..yang itu tu..yang lagi makan rumput..”tunjuk adik saya. Saya pun berusaha melihat sapinya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Ketika adik saya menoleh kearah sapi tesebut, benar saja sapi itu mengedipkan matanya tapi hanya mata sebelah kanan dari sapi itu yang berkedip sambil mulutnya mengunyah segenggam rumput yang berada dimulutnya. “waaaa…tuhkan beneran mas…”ujar adik saya. “hwahahahahahahaha…ada ya ternyata sapi yang ganjen ma kamu..hahahahahaha…” tawa saya pun sedikit meledak. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Kami sempat terlambat dari rombongan karena kejadian itu. Dan untungnya kami dapat menyusul rombongan yang berada jauh didepan kami. Kami pun tiba disuatu tempat yang memiliki tinggi mencapai tiga lantai. Tampaknya tempat ini kurang terawat (bisa juga tidak terawat) karena banyaknya sampah dan coret-coretan piloks di tembok-temboknya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Kami semua berkumpul ditempat itu, beristirahat sejenak, dan mendapat aba-aba dari panitia lain untuk segera menuju ketempat yang seharusnya. Kami pun lantas melanjutkan perjalanan didampingi salah seorang panitia tersebut untuk sampai ketempat tujuan. Di tempat itu, diadakan games, dan acara makan siang. Acara sempat berhenti pada saat waktu sholat tiba dan disusul dengan makan siang. Acara berlangsung kurang lebih sampai pukul 15.30 WIB. Setelah acara selasai, saya dan adik saya berjalan melewati pagar tembok berkawat. Saya menjadi penasaran dengan apa yang ada didalamnya. Setelah saya intip ternyata terdapat sepasang komodo yang berada didalam kandang yang sangat-sangat tidak layak untuk dihuni.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Ketika kami berjalan melewati kawasan kera besar, saya melihat seekor kera besar berbulu coklat sedang memegangi teralis kandangnya seorang diri. Kejadian itu juga dialami oleh tetangga-tetangga nya yang berjumlah dua kera di dua kandang berbeda disebelahnya. Tiba-tiba saya tercengang melihat kejadian itu dan melintas sesuatu didalam pikiran saya kata “alienasi!”. Ya, alienasi! Entah mengapa tiba-tiba terlintas dalam pikiran saya kata itu. Sesampainya ditempat parkir roda dua,saya masih terngiang kalimat itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saya ingat-ingat lagi segala kejadian yang telah saya temui sewaktu didalam kebun binatang tadi, memang, yang saya lihat hanya tembok-tembok pembatas berkawat dan mulai berkarat yang dihuni oleh berbagai macam hewan yang berlainan jenis. Meskipun mereka dari suatu wilayah yang sama, tetapi tetap saja mereka dipisahkan dari habitat aslinya untuk menghuni habitat buatan yang rasanya sangat seperti neraka dan tak terawat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Mereka dikumpulkan berdasarkan jenis yang sama dan dipisahkan perkandang berdasarkan jenis spesifik yang berbeda. Maksud saya, katakan saya sedang diwilayah monyet, dan diwilayah itu dibagi-bagi lagi dengan kandang-kandang yang berhimpitan dengan jenis-jenis seperti orang utan, bajing, atau bekantan. Mereka hidup tanpa teman dan tanpa semangat seperti yang saya ceritakan diatas sebelumnya. mereka menatap mata para pengunjung dengan tatapan memelas dan terlihat berlinang air mata. Mereka hanya bersuara didalam kandang tanpa pernah bisa menoleh kepada teman-temannya yang berada didekatnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Mereka berteriak-teriak seolah memanggil kumpulannya akan tetapi daya dari pemisah diantara mereka lebih perkasa. Mereka terasing dari dunia mereka sendiri. Sangat mengenaskan ketika mereka harus terpisah dengan cara seperti itu hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu dan kepuasan dari manusia. Mereka hanya dijadikan objek oleh manusia dan oleh pihak yang bersangkutan untuk mengeruk keuntungan dan tidak memperdulikan kebebasan dan dunia yang mereka miliki. Mereka “ter-spesialisasi” oleh julukan-julukan yang diberikan oleh manusia. Pikiran-pikiran seperti itu terus bergelayut dalam pikiran saya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Saya lalu menganalogikan kejadian yang telah saya lihat dengan kehidupan masyarakat modern dewasa ini. Saya membayangkan bahwa kera besar tadi sebagai sosok manusia yang terkurung didalam teralis besi dan bertembok tebal. Sama persis dengan keadaan kandang dari kera besar tadi. Bayangkan saja ruang yang ditempati oleh manusia tersebut sebagai “dunia yang telah dibagi” berdasar masing-masing bidang yang ada didalam kehidupan manusia. Mereka tidak dapat bertegur sapa dengan manusia lain karena tebalnya dinding pemisah yang telah dibangun dan mereka hanya dapat berteriak-teriak didalamnya. Sementara, manusia lain (yang juga dalam kondisi yang sama) hanya mampu mendengarkan teriakan-teriakan tersebut dan membalas teriakan-teriakan manusia lainnya tanpa pernah bertemu secara langsung. Sebuah dunia yang tidak menusiawi sedang dialami oleh manusia-manusia modern akibat “kandang” yang hanya memberikan kesibukan nya sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Mereka mencoba mengesampingkan nilai-nilai luhur dan mencoba menggantinya dengan nilai-nilai baru yang justru membuat mereka kehilangan nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan. Contoh paling nyata adalah semakin tebalnya barier-barier dalam pola komunikasi dengan manusia lainnya, pergeseran nilai-nilai “guyub” menjadi individualitas, dan berbagai macam fenomena-fenomena kontemporer lainnya. Saya lantas menganalogikan keseluruhan yang saya lihat dimana tembok-tembok tebal dan kawat berkarat tersebut yang berada dikebun binatang, sebagai “wajah” dunia secara keseluruhan (general). Ternyata saya menemui sebuah kesamaan antara “dunia” yang ada dikebun binatang dengan dunia manusia secara &lt;i style=""&gt;real.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Dan, tembok-tembok tersebut saya analogikan sebagai sebuah sistem yang ada didalam kehidupan. Saya lantas bertanya “siapa yang membuat tembok itu?” jawaban nya mengarah pada manusia. Ya manusia!. Manusia telah membuat sistem sedemikian rupa yang menurut manusia itu sendiri sebagai sebuah jalan menuju kehidupan yang lebih baik. Akan tetapi tembok-tembok itu telah memisahkan sebuah kehidupan bagi penghuninya yang nyata-nyata dipaksa untuk mendiami “dunia” buatan itu. Dengan kata lain, apa yang dibuat oleh manusia demi manusia tersebut ternyata membawa dampak hilangnya nilai-nilai kemanusiaan dimana terhalang oleh tembok tebal yang telah berdiri dan teralis yang menyebabkan hilangnya kebebasan manusia. Sebuah kondisi &lt;i style=""&gt;dehumanisasi &lt;/i&gt;dari dan oleh manusia itu sendiri dan manusia telah menciptakan alienasi bagi manusia lainnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Tanpa terasa saya telah tiba dikosan adik saya dan menurunkannya. Wajah adik saya tampak kelelahan sore itu. Mungkin karena permainan-permainan yang dimainkan cukup menguras tenaganya. Saya lantas menuju fakultas untuk sekedar berkumpul dengan teman-teman. Lelah sudah pasti saya rasakan dan saya tertidur berbantalkan jaket dan tas punggung saya.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2669877337856020081-3022081273127686154?l=proofyourself.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://proofyourself.blogspot.com/feeds/3022081273127686154/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2669877337856020081&amp;postID=3022081273127686154' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2669877337856020081/posts/default/3022081273127686154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2669877337856020081/posts/default/3022081273127686154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://proofyourself.blogspot.com/2008/07/pelajaran-berharga-dari-kebun-binatang.html' title='PELAJARAN BERHARGA dari KEBUN BINATANG'/><author><name>Bagus_Hartawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01735910815490951620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_sy9Yu5eauWg/SPxmUWYKEKI/AAAAAAAAAAM/rKcrOdCgZPs/S220/FOTO+NDHOX+(600+x+401).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2669877337856020081.post-8438249036662203812</id><published>2008-05-24T06:00:00.000-07:00</published><updated>2008-05-24T06:03:41.080-07:00</updated><title type='text'>MATINYA KEBEBASAN</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Banyak manusia mengatakan tentang kebebasan tapi mereka telah membentuk sebuah ketidakbebasan bagi orang lain. Ya, mungkin bahasan ini sudah tergolong basi atau hampir semua orang mengatakan “iya” terhadapnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sering saya melihat dengan mata kepala saya sendiri entah itu datangnya dari teman atau kerabat-kerabat saya yang lain mereka berbicara mengenai kebebasan. “sebagai manusia, kita memiliki kebebasan”, “kebebasan itu ada pada kita”, dan sebagainya mengenai kebebasan. Memang, menurut para filsuf kebebasan itu ada ketika kita menentukan pilihan dan menjalankannya beserta konsekuensi-konsekuensi yang menyertai, kebebasan kita jangan sampai berbenturan dengan kebebasan orang lain bahkan menurut Sartre, “kebebasan itu menyakitkan”. Mungkin dapat dipahami ketika kita menjadi manusia yang bebas, value-value dan sejenisnya akan menekan kita sehingga akan berpikir dua kali untuk menjadi manusia yang bebas. Jujur, saya salut dengan orang yang sangat lihai berbicara mengenai kebebasan karena mereka begitu indah (dan mungkin sangat indah dengan segala ke-hiperbola an nya) dalam berbicara mengenai kebebasan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Kebebasan itu bukan sesuatu hal yang konkret yang dapat di genggam. Mereka hanya lah sebuah ide yang dapat di rasakan dan di jalankan oleh seorang manusia. Itulah pendapat saya. Akan tetapi ketika saya melihat sebuah realita akan keindahan sebuah kebebasan, saya justru menjadi begitu tergelitik untuk mempertanyakan kebebasan itu sendiri. Itu semua karena orang-orang yang telah mempuitiskan kebebasan rasanya telah menodai kebebasan bagi orang lain. Seolah kebebasan dalam dirinya adalah suatu hal yang absolut dan semua orang harus menjadi dirinya agar menjadi manusia bebas. Mereka rela memasuki kelompok-kelompok maupun komunitas yang berfantasi akan kebebasan dan menginternalisasi nilai-nilai kelompok itu dan meng-“kampanyekan” kebebasan yang mereka rasakan sebagai suatu hal yang benar. Ya, mereka memang telah bebas dalam menentukan nilai-nilai yang diserap. Akan tetapi mereka tidak memberikan ruang bagi manusia lain dalam hal ini. Ketika seorang manusia berada diluar kelompok mereka, mereka berbicara dengan symbol-simbol yang hanya mereka sendiri yang tau untuk menghujat manusia tersebut. Mereka mentertawakan keberadaan manusia lain diluar kelompok mereka. Mereka coba menggambarkan diri bahwa mereka adalah pembawa “wahyu” kebebasan umat manusia dan rela berjuang demi kebebasan manusia. Kondisi ini begitu ironis karena mereka adalah manusia-manusia yang sadar akan kebebasan tetapi buta akan kebebasan. Mengap asaya berkata demikian? Karena mereka tidak pernah member ruang bagi kebebasan orang lain. Ketika seseorang tidak ingin menceritakan keadaan dirinya, mereka selalu memaksa dengan segala cara agar mereka menangkap symbol-simbol verbal dan non verbal dari orang lain sementara ketika orang lain berlaku sama, mereka malah tidak dapat menerimanya. Ketika seseorang mencoba menjadi diri mereka sendiri, mereka justru mencoba untuk menjadikan seseorang yang seragam dengan mereka. Dengan segala argumentasi, mereka justru seolah menjadi Tuhan atas orang lain. Dan memang sudah menjadi kecenderungan menurut Sartre bahwa manusia cenderung menjadi Allah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mereka cenderung bernafsu untuk menguasai orang lain dan memainkan orang lain sebagai pion dalam papan catur demi kebebasan mereka. “..they don’t speak for us..” (no surprises-Radiohead) mungkin dapat mewakili keberadaan mereka yang terlalu sering memuntahkan kata-kata yang bermakna kebebasan dan merupakan sebuah awal dari matinya kebebasan. Dan hanya sebuah simbol-simbol bermakna persuasif saja agar tiap manusia mengikuti kebebasan mereka.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2669877337856020081-8438249036662203812?l=proofyourself.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://proofyourself.blogspot.com/feeds/8438249036662203812/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2669877337856020081&amp;postID=8438249036662203812' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2669877337856020081/posts/default/8438249036662203812'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2669877337856020081/posts/default/8438249036662203812'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://proofyourself.blogspot.com/2008/05/matinya-kebebasan.html' title='MATINYA KEBEBASAN'/><author><name>Bagus_Hartawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01735910815490951620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_sy9Yu5eauWg/SPxmUWYKEKI/AAAAAAAAAAM/rKcrOdCgZPs/S220/FOTO+NDHOX+(600+x+401).jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2669877337856020081.post-888244063964098618</id><published>2008-04-07T06:20:00.001-07:00</published><updated>2008-04-08T21:18:16.724-07:00</updated><title type='text'>Cinta adalah Imaji</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Setiap dari anda selalu menyatakan bahwa pernah merasakan indahnya cinta entah itu timbulnya dari kesadaran cinta yang anda dapatkan dari pengalaman hidup maupun dari “keindahan” lirik lagu yang berhasil mengkonstruksi keberadaan cinta dalam diri kita. Semenjak kita terlahir di dunia, kita telah terpisah dengan kehangatan rahim ibu yang melindungi kita. Keterpisahan dalam kehangatan ini tidak lah kita kehendaki. Kita hanyalah sebuah makhluk pasif yang berpindah tempat menuju dunia. Secara refleks kita menangis menjadi-jadi di iringi senyum bahagia sepasang manusia. Tempat ini tidak kita inginkan. Kehangatan dan kenyamanan tidak kita temui didalam nya. Tempat ini begitu asing dan menyesakkan. Perlahan-lahan kita mulai belajar untuk beradaptasi dengan keasingan yang kita rasakan melalui pelukan dan air susu ibu. Perasaan aman dan nyaman kita dapatkan kembali setelah terenggut oleh “pemaksaan” otot-otot perut yang berhasil “menendang” kita sebelumnya. Kita telah mengalami kebersatuan dengan ibu kita. Untuk pertama kalinya keberadaan sebuah cinta kita akui. Untuk pertama kalinya juga kita jujur dan mengekspresikan adanya cinta. Akan tetapi semakin dewasa, kita semakin &lt;i style=""&gt;fasih&lt;/i&gt; dalam hal merepres hal ini. Kita semua telah belajar untuk menekan persaan cinta kita hingga saat ini yang menjadikan cinta adalah suatu hal yang memalukan dan patut di tertawakan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Kecenderungan dalam merepres cinta ini dapat termanifestasikan dalam hal semakin menjamurnya perilaku menyimpang dalam hal seksualitas, dan penggunaan zat-zat yang dapat memberikan sebuah efek pemuasan yang bersifat semu. Penyimpangan perilaku seksualitas ini dapat kita lihat ketika semakin menjamurnya seks bebas yang berakibat pada pencederaan makna sex yang telah ter-sintesiskan dengan cinta. Secara teoritik, kuasa ayah pada saat kita kecil telah mempengaruhi perasaan cinta kita terhadap objek cinta kita untuk yang pertama kalinya dan suatu kuasa ibu yang menampak kan suatu pola ke-inferioritasan sehingga secara tidak sadar kita lebih memilih membuang tenaga untuk menekan segala macam afeksi mengenai cinta yang kita rasakan. Dalam hal ini mungkin kita dapat lihat suatu pola yang biasa disebut sebagai “quo” (status quo) dalam menyampaikan perasaan cinta kita kepada objek cinta kita. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Suatu konsekuensi logis terjadi ketika kita melakukan pemadatan terhadap cinta dengan harus mengakui bahwa ke-patriarkian merupakan suatu hal yang logis dan wajib di jalankan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kalau kita sadar, maka kita akan menyadari suatu keterpisahan kita dengan salah satu sisi dari diri kita yaitu afeksi kita. Kita lantas meng-kompensasikan nya dengan mendominasikan unsur kognisi sebagai “raja” atas diri kita dan tidak ada seorang “ratu” yang mendampingi nya. Akan tetapi lebih sialnya lagi, suatu bentuk represi ini tidak lantas dapat kita katrol menuju alam pra-sadar kita dimana suatu waktu dapat membantu kita agar menyadari keterpisahan diri kita. Oleh karena itu, untuk memuaskan suatu bentuk ketidak-berdayaan kita akan keterpisahan ini, sering dari kita berlari menuju suatu kondisi yang di sebut oleh Fromm dengan kondisi Orgiastik. Dimana kita “menjemput” suatu kondisi yang semu melalui alcoholism ataupun cara-cara lain yang dapat memberikan suatu efek semu dan memberikan suatu cara agar kita merasakan “kenikmatan” sesaat dari keterpisahan kita (fromm;erich, the Art of Loving). Akhirnya, kita mengakui adanya cinta dengan objek diluar diri kita dengan cara-cara yang semu, sebuah simulasi atas diri. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Contoh yang sangat menarik mengenai cinta ini adalah sepasang suami-istri yang sebelumnya terpisah selama 30 tahun. Pada waktu itu, si istri sedang berumur 1 tahun. Begitu mereka bertemu, perasaan akan keterpisahan mereka timbul. Si wanita tersebut lantas menikahi lelaki yang telah berpisah selama 30 tahun tersebut. Akan tetapi, wanita dan lelaki tersebut sadar bahwa mereka adalah ayah dan anak yang telah berpisah selama 30 tahun. Istri yang sesungguhnya dari lelaki itu telah meninggal, mereka ber-cerai pada waktu anaknya baru berusia 30 tahun. Mereka sekarang telah memiliki 2 orang anak, 1 anak nya meninggal dunia karena kelinan jantung bawaan, dan anak satu nya dalam keadaan sehat. (Jawa Pos, 08 April 2008). Jika kita melihat cerita diatas, kita akan menyalahkan mereka berdua. Akan tetapi jika kita telaah lebih dalam, apa yang mereka lakukan sebenarnya berasal dari keterpisahan yang selama ini mereka rasakan. Mereka bertemu sebagai seorang bapak-anak, akan tetapi secara sadar, mereka memisahkan hal itu. Mereka lebih memilih perasaan akan cinta mereka ber-dua sebagai sepasang kekasih.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Pada awal mula manusia di ciptakan sebagai sosok Adam, dia telah mengalami sebuah keterpisahan dengan manusia lainnya. Dia pun merasakan kesepian. Maka Yang Esa pun menciptakan Hawa sebagai pendampingnya. Menurut cerita yang saya dengar, Hawa diciptakan oleh Yang Esa dari tulang rusuk Adam. Adam merelakan dirinya berpisah dengan salah satu anggota tubuhnya demi terciptanya wanita pertama, Hawa. Mereka hidup bahagia di Surga hingga Hawa menyuruh Adam untuk mengambil buah yang telah di”kutuk” oleh Yang Esa. Adam dan Hawa di turunkan dari “istananya” menuju ke suatu tempat yag sangat asing bagi mereka, Bumi (Dunia). Mereka tidak di “buang” di tempat yang sama, akan tetapi di jauhkan dengan jarak ribuan mil. Hanya karena kesadaran akan keterpisahan mereka lah pada akhirnya mereka bertemu kembali dan menjadi satu, hingga memiliki empat orang anak (dua orang lelaki dan dua orang wanita) yang pada akhirnya mereka menikah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Berkaca pada dua cerita diatas, sebenanya apa yang terjadi pada cerita pertama adalah hal yang wajar (mungkin menurut anda tidak pada saat ini).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sama ketika Adam dan Hawa menikahkan anak-anak mereka sendiri. Akan tetapi semakin berubahnya hari, minggu, bulan, dan tahun, manusia belajar untuk mengatasi dan memperbaiki hidup mereka. Oleh karena itu mereka membentuk sebuah &lt;i style=""&gt;totem &lt;/i&gt;yang notabene merupakan sebuah lambang yang mereka sembah sebagai sesuatu yang memiliki kekuatan. Mereka merindukan akan suatu kekuatan yang dapat melindungi mereka. Melalui totem inilah mereka akhirnya menciptakan suatu norma atau aturan-aturan bagi seluruh anggota totem yang bertujuan untuk mengatur seluruh tingkah laku anggotanya, termasuk masalah afeksi. Mereka melarang adanya pernikahan dengan sesama anggota totem. Oleh karena itulah ke-tabu (&lt;i style=""&gt;taboo&lt;/i&gt;) an kita kenal sampai sekarang dan sebuah system di dalam Psyche kita yang oleh Freud disebut dengan Super-ego. Bagi kita yang turut menyalahkan kisah di atas, sebenarnya system super-ego kita lah yang menyalahkan tindakan mereka. Yang harus kita sadari bersama adalah karena mereka manusia (sama dengan kita) yang mengalami keterpisahan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2669877337856020081-888244063964098618?l=proofyourself.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://proofyourself.blogspot.com/feeds/888244063964098618/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2669877337856020081&amp;postID=888244063964098618' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2669877337856020081/posts/default/888244063964098618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2669877337856020081/posts/default/888244063964098618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://proofyourself.blogspot.com/2008/04/cinta-adalah-imaji.html' title='Cinta adalah Imaji'/><author><name>Bagus_Hartawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01735910815490951620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_sy9Yu5eauWg/SPxmUWYKEKI/AAAAAAAAAAM/rKcrOdCgZPs/S220/FOTO+NDHOX+(600+x+401).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
